PENJELASAN HABIB MUNDZIR AL-MUSAWA TENTANG SYEKH AL-BANI DAN KWALITAS FATWANYA

 

PENJELASAN HABIB MUNDZIR AL-MUSAWA TENTANG SYEKH AL-BANI DAN KWALITAS FATWANYA
By : Hubbul Wathon Minal Iman





Suatu ketika seorang pria yang bertanya kepada Habib Mundzir Al Musawa , tentang sosok Syekh Nasiruddin Al Bani, ulama’ panutan kaum Salafi Wahabi. Penanya menginginkan agar pendiri dan pengasuh majelis Rosulullah SAW ini memberikan pendapat penjelasan apakah Syekh Al-bani seorang muhaddist atau bukan ?? , sebab kelompok salafi wahabi  selalu menjadikan penilaian Al-bani terhadap hadist sebagai rujukan ulama shahih dan tidaknya hadist di gantungkan pada penilaian Al-bani. Maka murid Habib Umar Al Hafidz Tarim Yaman ini memberikan jawaban sebagaimana kansir dari majelis Rasulullah. Orang berikut ini berkata,“saudaraku kemuliaan beliau (Syekh Al-Bani) itu bukan muhaddist, karena muhaddist adalah orang yang mengumpulkan hadist dan menerima hadist dari para periwayat hadist. Al-Bani tidak hidup pada masa itu, ia hanya menukil–nukil dari sisa buku-buku hadist yang ada pada masa kini, kita bisa lihat imam Ahmad bin Hambal yang hafal 1 juta hadist, berikut sanad dan hukum matannya hingga digelari dengan gelar Huffadhud dunya  atau salah seorang yang paling banyak hafal hadistnya di dunia (sebagai mana dalam kitab Taozkiirotul Huffadh dan Siyar A’lamun Nubala)

Beliau tak sempat menulis semua hadist itu beliau hanya sempat menulis 20 ribu hadist saja, maka 980 ribu hadist hingga sirna ditelan zaman. Imam Bukhori hafal 600 ribu hadist berikut sanad dan hukum matannya di masa mudanya namun beliau hanya sempat menulis 7 ribu hadist saja pada kitab Sahih Bukhori dan beberapa kitab hadist kecil. Sedangkan 593 ribu lainnya sirna di telan zaman.

Demikian para muhaddist besar lainnya, seperti imam Nasa’i, Tirmidzi, Abu Dawud, imam Muslim, Ibnu Najah, imam Syafi’i, imam Malik, dan ratusan muhaddist lainnya.

Muhaddist adalah orang yang berjumpa langsung dengan perawi hadist, bukan jumpa dengan buku – bukunya, Al-Bani hanya berjumpa dengan sisa–sisa buku hadist pada masa ini tapi tanpa guru. Al Bani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi orang yang hafal 300 ribu hadist berikut sanad dan hukum matannya. Bagaimana ia menghafal 300 ribu hadist?? Sedangkan masa kini jika semua kitab hadist di kumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100 ribu hadist. Imam Nawawi dan Imam Al Ghozali adalah Hujjatul Islam yang sesungguhnya.

Al Bani juga bukan “Al Huffadz” karena ia tak hafal 100 ribu hadist dengan sanad dan hukum matannya, ia juga banyak menusuk fatwa para muhaddisin menunjukkan ke tidak fahamannya akan hadist. Al Bani bukan pula “Al Musnid” yaitu pakar hadist yang  menyimpan banyak sanad hadist sehingga sanadnya sampai pada dirinya. Sedangkan Al Bani tidak punya satu pun sanad hadist yang muttasil yang sambung pada Rasulullah SAW



Para muhaddisin berkata “Tiada ilmu tanpa sanad.” Maksudnya semua ilmu hadist, Al Qur’an, fiqih dan tauhid, mestilah ada jalur gurunya yang sambung hingga sampai kepada Rasulullah SAW, sahabat, Tabi’in, imam dan Ulama’ maka jika ada seseorang mengaku pakar hadist dan berfatwa namun tidak punya sanad guru maka fatwanya mardud (di tolak) ucapannya Dhoif ( lemah ) dan tak bisa di jadikan dalil untuk di ikuti karena sanadnya maqtu’ ( terputus )

Apa pendapat anda ( Habib Mundzir ) dengan munculnya manusia di abad ini lalu menukil-nukil sisa–sisa hadist yang tidak mencapai 10 % dari hadist yang ada masa itu lalu dia berkata hadist ini Dhoif hadist itu Dhoif!!  “ saya sebenarnya tidak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapkannya. Ketimbang hancurnya umat karena tipuan seseorang tong kosong.  Wallahu a’lam.

 KUNJUNGI TERUS SITUS KAMI..SEMOGA BERMANFAAT..

Bisa juga anda melihat update an situs2 kami di FB, Twitter, dan WA Ponpes kami....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MADING ALI BAA'ALAWY

TANGISAN PARA SAHABAT DIMALAM BULAN ROJAB

Ibnu Bathutah # PENJELAJAH MUSLIM DENGAN PETUALANGAN HEBAT SEPANJANG MASA