ANDALUSIA-SPANYOL LAHIRKAN CENDEKIAWAN MUSLIM # 512 Tahun Jatuhnya Kejayaan Islam di Spanyol
ANDALUSIA-SPANYOL LAHIRKAN
CENDEKIAWAN MUSLIM
512
Tahun Jatuhnya Kejayaan Islam di Spanyol
Tentu kita masih ingat akan sejarah kedatangan Thariq bin
Ziyad bersama pasukannya pada bulan Mei tahun 711 M memasuki selat Gibraltar
yang terletak di teluk Algeciras, sebagai cikal bakal perkembangan kebudayaan
Islam dan kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bercokol di tanah Andalusia
(sekarang Spanyol). Berkat kedatangan Islam di Andalusia hampir delapan abad
lamanya kaum Muslim mengusasi kota-kota penting seperti Toledo, Saragosa,
Cordoba, Valencia, Malaga, Seville, Granada dan lain sebagainya, mereka membawa
panji-panji ke-Islaman, baik dari segi Ilmu pengetahuan, Kebudayaan, maupun
segi Arsitektur bangunan.
Di negeri inilah lahir tokoh-tokoh muslim ternama yang
menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Agama Islam, Kedokteran,
Filsafat, Ilmu Hayat, Ilmu Hisab, Ilmu Hukum, Sastra, Ilmu Alam, Astronomi, dan
lain sebagainya. Oleh karena itu dengan segala kemajuan dalam berbagai ilmu
pengetahuan, kebudayaan serta aspek-aspek ke-islaman, Andalusia kala itu boleh
dikatakan sebagai pusat kebudayaan Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tiada
tandingannya setelah Konstantinopel dan Bagdad. Maka tak heran waktu itu pula
bangsa-bangsa Eropa lainnya mulai berdatangan ke negeri Andalusia ini untuk
mempelajari berbagai Ilmu pengetahuan dari orang-orang Muslim Spanyol, dengan
mempelejari buku-buku buah karya cendekiawan Andalusia baik secara
sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.
THARIQ BIN ZIYAD Penaluk
Andalusia
Salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan
diingat orang adalah seorang panglima yang bernama Thariq bin Ziyad. Thariq
adalah salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan
prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah). Setelah Musa bin Nushair membuka
jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan
menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq
membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa dari sinilah
sejarah bangsa Ifranji –sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.
Tulisan kali ini akan memaparkan sedikit tentang perjalanan
hidup Thraiq bin Ziyad rahimahullah dan bagaimana upayanya menaklukkan Spanyol.
Jabal Thariq atau Bukit Thariq yang menjadi pintu gerbang
Spanyol dari arah Maroko
Masa Kecil Thariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di
Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi
seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko. Masa kecilnya
sama seperti masa kecil kebanyakan umat Islam saat itu, ia belajar membaca dan
menulis, juga menghafal surat-surat Alquran dan hadis-hadis.
Tidak banyak yang dicatat oleh ahli sejarah mengenai masa
kecil Thariq bin Ziyad, bahkan sejarawan seperti Imam Ibnu al-Atsir,
ath-Thabari, dan Ibnu Khaldun tidak meriwayatkan masa kecil Thariq bin Ziyad
dalam buku-buku mereka.
Dalam
Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah budak dari amir
Kerajaan Umawiyah di Afrika Utara, Musa bin Nushair. Lalu Musa membebaskannya
dari perbudakan dan mengangkatnya menjadi panglima perang. Setelah beberapa
generasi kemudian, status Thariq sebagai budak dibantah oleh
keturunan-keturunannya.
Jihad di Afrika Utara
Salah satu daerah yang paling strategis di wilayah Afrika
Utara adalah Maroko. Daerah ini telah mengenal Islam sebelum kedatangan Musa
bin Nushair dan pasukannya –Thariq bin Ziyad termasuk pasukan Musa bin
Nushair-. Namun penduduk di daerah ini belum menerima Islam secara utuh dan keimanan
mereka belum kokoh, terbukti dengan seringnya masyarakat wilayah ini berganti
agama dari Islam ke agama selainnya.
Posisi Kota Al-Hoceima yang penting dalam penaklukkan Maroko
Di antara penyebab pergantian agama ini karena penaklukan Maroko
di masa Uqbah bin Nafi’, kurang memperhatikan pendidikan keagamaan. Islam belum
mapan di suatu daerah, Uqbah dan pasukannya sudah berangkat ke daerah lainnya.
Selain itu keadaan bangsa Barbar di Afrika Utara yang memang mewaspadai
pergerakan Uqbah bin Nafi’. Keadaan demikian menyebabkan masyarakat Maroko
sering murtad setelah masuk ke dalam Islam.
Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair
dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian salah seorang pasukannya yang
bernama Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya
pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di
Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan Islam
menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq
menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar
Maroko.
Menaklukkan
Andalusia
Salah satu rahasia mengapa agama Islam begitu diterima di
wilayah-wilayah yang ditaklukkannya karena umat Islam tidak memperbudak dan
bukan bertujuan mengusai, akan tetapi tujuannya adalah membebaskan wilayah
tersebut, membebaskan wilayah tersebut dari kezaliman penguasanya dan
hukum-hukum yang tidak adil. Oleh karena itu, kita jumpai wilayah-wilayah yang
ditaklukkan umat Islam, penduduk pribuminya berbondong-bondong memeluk agama
Islam.
Sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu
dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja
Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di
masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia
sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menggulingkan Roderick dan membebaskan
mereka dari kezalimannya.
Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia
langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan
menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid
bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus
yang telah dirintis sebelumnya.
Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang
membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari
bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak
senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian
kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7000 pasukan lainnya
melintasi lautan menuju Andalusia.
Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk
menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya Perang Sidonia langsung mengalihkan perhatiannya
kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu,
Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin.
Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap
segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.
Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa
pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta
bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5000 orang.
Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711
M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang
yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya
yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth
pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah
telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada
mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa
Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.
Setelah
perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan
mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin Nushair bersama
Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan
Andalusia.
Kembali ke Damaskus
Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad tidak hanya mengalahkan
penguasa-penguasa zalim di Eropa, namun mereka berhasil menaklukkan hati
masyarakat Eropa dengan memeluk Islam. Mereka berhasil menyampaikan pesan bahwa
Islam adalah agama mulia dan memuliakan manusia. Manusia tidak lagi menghinakan
diri mereka di hadapan sesama makhluk, kemuliaan hanya diukur dengan ketakwaan
bukan dengan nasab, warna kulit, status sosial, dan materi. Musa dan Thariq
juga berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid, memurnikan penyembahan hanya
kepada Allah semata.
Memandang keberhasilan Musa dan Thariq menaklukkan Andalusia
dan menanamkan nilai-nilai Islam di negeri tersebut, khalifah al-Walid bin
Abdul Malik memanggil mereka beruda kembali ke Damaskus.
Penutup
Sekali lagi, kisah Thariq bin Ziyad merupakan buah dari
kebijakan-kebijakan Kerajaan Umawiyah yang seolah-olah dilupakan para
pembencinya. Mereka disibukkan dengan isu-isu yang dibuat oleh orang-orang
Syiah bahwa Bani Umayyah menzalimi ahlul bait Rasulullah. Mereka juga larut
dengan kalimat-kalimat orientalis yang mengatakan Kerajaan Umawiyah jauh dari
syariat Islam. Mereka tenggelam dengan kabar-kabar palsu itu dan lupa dengan
jasa-jasa Bani Umayyah.
Bagi bangsa Eropa, tentu saja kedatangan Islam melalui Thariq
bin Ziyad membawa dampak besar terhadap perkembangan peradaban mereka,
sebagaimana tergambar pada kemajuan Kota Cordoba. Ini adalah awal kebangkitan
modern dan terbitnya matahari yang menerangi kegelapan benua Eropa.
Kediktatoran dan hukum rimba berganti dengan norma-norma humanis yang membawa
kedamaian.
Jasa-jasa Thariq dan kepahlawanannya diabadikan dengan nama
selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol dengan nama Selat Gibraltar. Gibraltar
adalah kata dalam bahasa Spanyol yang diartikan dalam bahasa Arab sebagai Jabal
Thariq atau dalam bahasa Indonesia Bukit Thariq.
Semoga Allah membalas jasa-jasa Thariq bin Ziyad rahimahullah…
Komentar
Posting Komentar