AL HABIB ALI BIN HUSAIN AL-ATHTHAS
AL HABIB ALI BIN HUSAIN AL-ATHTHAS
Seorang yang Kharismatik dan penuh wibawa, seorang yang dicintai oleh masyarakat karena ke tawaduannya dan ke cintanya kepada umat serta ketegasannya terhadap para pemimpin. Dan senantiasa mencurahkan tenaga serta waktunya untuk ke maslahatan umat, dialah Al Habib Ali bin Husein Al Attas atau lebih di kenal dengan sebutan Habib Ali Bungur.
Beliau memiliki jasa yang sangat besar dalam
menorehkan jejak langkah dakwah di
kalangan masyarakat Betawi. Beliau menjadi rujukan umat di zamannya, Al Habib
Salim bin Jindan pernah berkata, bahwasanya Al Habib Ali Al Attas dan Al Habib
Ali kwitang bagaikan kedua bola matanya
dikarenakan luasnya Khazanah ke ilmuan kedua habib ini.
Al Habib Ali lahir di Huraidhah Hadramaut pada tanggal 1 muharram 1309 H bertepatan dengan tahun 1889 M.
Semenjak umur 6 tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman pada
para ulama’ dan auliya’ yang hidup di Hadramaut saat itu. Pada tahun 1912 M
beliau pergi ke tanah suci untuk melakukan ibadah haji dan berziarah ke makam
Rasulullah Saw dan beliau menetap di sana, hari-harinya di gunakan untuk menimba
ilmu kepada para ulama’ yang berada di Hijaz. Pada saat beliau berada di
Jakarta beliau berguru pada para ulama’ yang berada di tanah air di antaranya :
Al Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Empang Bogor), Al Habib Abdullah bin
Thallib Al-Attas (Pekalongan), Al Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi
(Surabaya), Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Mudhor (Bondowoso).
Beliau
menetap di Bungur daerah Cikini, selama hidupnya
beliau di kenal sebagai seorang yang sederhana dan tawadu’, teguh memegang prinsip dan tidak segan segan mengoreksi para
pembesar pembesar negeri serta memberi petunjuk kepada orang yang di anggap
perlu. Semasa hidupnya beliau tak pernah berhenti memberi pengajaran kepada
kaum muslimin. Berjubah dan serban serta selempang hijau (Radi) sudah menjadi
ciri khasnya, beliau selalu becak kendaraan umum ketika hendak bepergian.
Al-Habib Ali
bin Husein Al-Attas selalu menganjurkan dan memberi semangat dalam menghalangi
dan melawan penjajah. Dalam memberikan ulasan ulasan keagamaan beliau selalu
mengobarkan semangat anti penjajah dan membawakan ayat ayat Al Qur’an serta
Hadist yang menganjurkan perang melawan penjajah. Demikian pula sikapnya
terhadap para Komunis Habib Ali selalu gigih. Di saat kuatnya PKI beliau selalu
bilang bahwa PKI dan Komunis akan lenyap dari bumi Indonesia dan rakyat selalu
melawan kekuatan Atheis.
Beliau wafat
pada tanggal 16 Februari 1976, pukul 06:10 pagi pada usia yang ke 88 tahun dan
di makamkan di pemakaman Al-Hawi Condet Jakarta Timur. Radio dan pers Indonesia
sejak tanggal 16 Februari 1976, terus mengumumkan berita duka cita atas
berpulangnya ulama’ besar Indonesia ini. Ribuan pengikut almarhum dan ratusan
ribu rakyat mengantarkan ulama’ besar ini menuju tempat peristirahatan
terakhirnya. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik bagi beliau dan
memberikan balasan yang sebaik baiknya balasan, yaitu surganya Allah dan semoga
dakwah beliau akan di kenal dan di teruskan oleh para Da’iyah dan para Habaib
dari generasi ke generasi hingga akhir zaman. Aaamiinn..!!!
Allahumma
Sholli Ala Muhammad
Wallahu
A’lam Bissowab



Komentar
Posting Komentar